02.29

MENATAP MASA DEPAN BERSAMA ANAK



              Pertanyaan seorang anak yang hampir menyelesaikan kuliahnya:   “Mamah, apakah  sulit mencari kerja?”    “Bagaimana untuk bisa diterima bekerja?”   “Apakah mamah dulu juga harus interview untuk mencari pekerjaan?”   “Apa yang perlu disiapkan untuk mencari pekerjaan?”


                Segudang pertanyaan timbul dari benak seorang anak yang sedang kuliah. Belum selesai kuliah tetapi dia telah melihat realita dunia yang penuh dengan tantangan. Dia melihat dan mendapat informasi dari temanya  sulitnya mendapat dan mencari pekerjaan saat ini.  Sulitnya menggapai dunia kerja ketika semua orang berpacu untuk mendapatkannya. Sebuah pekerjaan diperebutkan oleh ribuan orang pencari kerja. Realitas yang sangat tak mudah untuk dilihat dan dikemukakan.  Apalagi Indonesia yang pertumbuhannya tak menggembirakan (prediksi 6.3%)  tetapi tidak berhasil. Menurut Bank Dunia  pertumbuhan Indonesia diperkiran akan hanya 5.9%.  Jika setiap tahun catatan per Februari 2013 terdapat 121,2 angkatan kerja, sekitar 7.1 atau 5.92% masih mengganggur. Padahal tiap tahun peningkatan jumlah tenaga kerja berjumlah  2juta-2,5 juta. Artinya  pertumbuhan 1% dapat menciptakan 400,000 . Tetapi dengan adanya penurunan artinya selain jumlah penggangguran akan naik, jumlah tenaga kerja baru yang tak terserap makin banyak.


                Jika demikian, apakah jawaban seorang ibu kepada anaknya.   Tentu tak mudah.   Realitasnya memang demikian sulit untuk mendapat pekerjaan setelah kuliah.  Sebuah pekerjaan dikompetisikan atau dikejar oleh beribu pencari pekerjaan.   Jika tak memperolehnya, lalu apa yang harus dilakukan?   Berdiam diri, menanti sampai dapat.  Sebagai orangtua, mengajak anak untuk tidak menyerah kepada keadaan dan realitas.
  
                Di zaman yang sulit mendapat pekerjaan formal, tentunya,  paling tidak bagi mereka yang kreatif,  harus menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri atau mencari cara bagaimana pekerjaan itu tercipta.    Saya sebagai orangtua mengatakan kepada anak saya, jangan takut untuk menggapai atau menatap masa depan.   Tak perlu cemas, jika memang pekerjaan formal belum dapat, tentu engkau harus berusaha untuk melihat peluang pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan skill yang telah engkau dapatkan.   Peluang itu memang tak mudah dicari, tapi harus diciptakan.  Ketika kita tahu ada lubang kecil disana, kita harus gali dan gali sampai kita menemukannya dan mendapatkan.

                Sering seorang anak terjebak dalam keterbatasannya melihat dunia sebagai tempat  untuk kerja secara formal dan pragmatis.   Tetapi sebagai orangtua, lebih indah jika mengantarkan anak untuk melihat dunia sebagai tempat untuk mengasah  kemampuannya,  sense of business,  dan jika mungkin memiliki  sense of entreprenuership.     Jatuh bangun atau mulai dari hal yang kecil saja.  Dari yang kecil itu ada setitik harapan untuk menuju yang besar.   Bukan hanya menunggu harapan untuk menjadi pegawai yang sulit dicapai saat ini.

                Menatap masa depan bersama anak, bukan hal yang mudah.  Ketidak mengertian kita pada dunia bisnis, memang sangat tak mendukung untuk memberikan insight kepada anak. Tapi pengalaman kerja atau pengalaman dari  suami yang bekerja, tentu akan membantu kita dalam mendukung anak menatap masa depannya.

                Sambutlah masa depan bersama anak. Pastikan dia tak gentar mencapainya.


0 komentar: