Pertanyaan seorang anak yang hampir menyelesaikan kuliahnya: “Mamah,
apakah sulit mencari kerja?” “Bagaimana untuk bisa diterima bekerja?” “Apakah mamah dulu juga harus interview
untuk mencari pekerjaan?” “Apa yang perlu
disiapkan untuk mencari pekerjaan?”
Segudang
pertanyaan timbul dari benak seorang anak yang sedang kuliah. Belum selesai
kuliah tetapi dia telah melihat realita dunia yang penuh dengan tantangan. Dia
melihat dan mendapat informasi dari temanya
sulitnya mendapat dan mencari pekerjaan saat ini. Sulitnya menggapai dunia kerja ketika semua
orang berpacu untuk mendapatkannya. Sebuah pekerjaan diperebutkan oleh ribuan orang pencari kerja. Realitas yang sangat tak mudah untuk dilihat dan dikemukakan. Apalagi Indonesia yang pertumbuhannya tak menggembirakan (prediksi 6.3%) tetapi tidak berhasil. Menurut Bank Dunia pertumbuhan Indonesia diperkiran akan hanya 5.9%. Jika setiap tahun catatan per Februari 2013 terdapat 121,2 angkatan kerja, sekitar 7.1 atau 5.92% masih mengganggur. Padahal tiap tahun peningkatan jumlah tenaga kerja berjumlah 2juta-2,5 juta. Artinya pertumbuhan 1% dapat menciptakan 400,000 . Tetapi dengan adanya penurunan artinya selain jumlah penggangguran akan naik, jumlah tenaga kerja baru yang tak terserap makin banyak.
Jika
demikian, apakah jawaban seorang ibu kepada anaknya. Tentu tak mudah. Realitasnya memang demikian sulit untuk
mendapat pekerjaan setelah kuliah.
Sebuah pekerjaan dikompetisikan atau dikejar oleh beribu pencari
pekerjaan. Jika tak memperolehnya, lalu
apa yang harus dilakukan? Berdiam diri,
menanti sampai dapat. Sebagai orangtua,
mengajak anak untuk tidak menyerah kepada keadaan dan realitas.
Di
zaman yang sulit mendapat pekerjaan formal, tentunya, paling tidak bagi mereka yang kreatif, harus menciptakan pekerjaan untuk dirinya
sendiri atau mencari cara bagaimana pekerjaan itu tercipta. Saya sebagai orangtua mengatakan kepada
anak saya, jangan takut untuk menggapai atau menatap masa depan. Tak perlu cemas, jika memang pekerjaan
formal belum dapat, tentu engkau harus berusaha untuk melihat peluang pekerjaan
yang sesuai dengan kemampuan dan skill yang telah engkau dapatkan. Peluang itu memang tak mudah dicari, tapi
harus diciptakan. Ketika kita tahu ada
lubang kecil disana, kita harus gali dan gali sampai kita menemukannya dan
mendapatkan.
Sering
seorang anak terjebak dalam keterbatasannya melihat dunia sebagai tempat untuk kerja secara formal dan pragmatis. Tetapi sebagai orangtua, lebih indah jika
mengantarkan anak untuk melihat dunia sebagai tempat untuk mengasah kemampuannya,
sense of business, dan jika
mungkin memiliki sense of entreprenuership. Jatuh bangun atau mulai dari hal yang kecil
saja. Dari yang kecil itu ada setitik
harapan untuk menuju yang besar. Bukan
hanya menunggu harapan untuk menjadi pegawai yang sulit dicapai saat ini.
Menatap
masa depan bersama anak, bukan hal yang mudah.
Ketidak mengertian kita pada dunia bisnis, memang sangat tak mendukung
untuk memberikan insight kepada anak. Tapi pengalaman kerja atau pengalaman
dari suami yang bekerja, tentu akan
membantu kita dalam mendukung anak menatap masa depannya.
Sambutlah
masa depan bersama anak. Pastikan dia tak gentar mencapainya.






0 komentar:
Posting Komentar