Ironis bahwa Indonesia sebagai
negara penghasil kopi arabica yang pertama harus menempati posisi ke
3 sementara Vietnam ke 2.
Sejarah membuktikan bahwa Vietnam pernah belajar kepada RI untuk
mengolah, memproduksi kopi Robusta .
Namun, sejarah pula yang telah
mengukir ternyata RI berhasil dikalahkan oleh Vietnam untuk
produksi kopi Robusta di tempat ke3 setelah Vietnam menduduki tempat ke 2.
Kopi Vietnam
Produksi kopi Robusta Vietnam tiap tahun terus
meningkat. Proyeksi tahun 2011-2012
lebih tinggi 10% dibandingkan sebelumnya.
Jumlah kopi dari 13 pedagang dihasilkan 1,6 Metric ton dalam 12 bulan
Mulai Oktober yaitu 1,65 juta dibandingkan dari tahun sebelumnya hanya 1,45
juta.
Penjualan kopi Robusta Vietnam
lebih murah daripada Indonesia . Harga yang diperdagangkan di NYSE pekan lallu
yaitu USD 140/per ton dibandingkan
Indonesia yang lebih mahal USD 230/per
ton. Harga yang tinggi mencerminkan
tidak efektivifnya Indonesia dalam
produksi kopi Robusta. Biaya jauh lebih
tinggi dari modal, menyebabkan harga
jual Indonesia menjadi lebih mahal
1. Petani
Robusta Indonesia belum menggunakan bibit kopi Robusta unggul. Sedangkan petani
Robusta Vietnam telah menggunakan bibit kopi Robusta
2. Tenaga
penyuluh/pembimbing petani di Indonesia
hanya oleh departemen pertanian, yang hanya mengetahui secara teori dan tidak mengetahui kondisi
lapangan. Sedangkan pembimbing petani
Robusta Vietnam langsung terjun di lapangan
3. Petani
di Indonesia tidak mendapat dukungan
dari pemerintah. Sedangkan di Vietnam di dukung oleh pemerintah
4. Kelemahan
Indonesia di poin pertama menyebabkan produktivitas menjadi rendah meskipun
lahan tanah jauh lebih luas dari Vietnam.
Indonesia lahan 1.6ha , produksi kurang dari 1 juta. Sedangkan Vientaman lahan 512 ha tetapi hasilnya
1,65 juta. Bayangkan sangat besar
pertaniannya.
Bagimana strategi mengalah pasar dunia? Apakah dengan bersatunya kedua negara penghasil kopi Robusta yang tergabung dalam ASEAN dapat merebut pangsa pasar dunia?
Secara politis dan ekonomi,
jawabannya tidak mungkin.
Bersaing dalam pasar global tentu masing-masing negara mempunyai kehebatan dan keunggulan
komparatif yang tak bisa dicapai dengan
mudah. Tentu Vietnam masih ingin
mengantongi keuntungan ini untuk devisa
negara dan penghasilan dari petaninya.
Namun, secara Negara
Asean yang bisa dilakukan adalah kerja-sama kedua negara
mengenai manajemen produktivitas
dan intesifikasi kopi robusta dan
manajemen marketing .
Yang dapat dilakukan Indonesia pada saat produksi Vietnam
turun (karena cuaca), dengan menggenjot
produksinya mencapai 1,5 juta ton. Hal ini hanya dapat dicapai jika potensi produksi tercapai 60% , saat ini potensi produksi baru 20%. Kenaikan produksi ini dimungkinkan tercapai jika ada intensifikasi
dan komitmen dari pemerintah Pemerintah
untuk mendukung dalam dana maupun teknik penanaman bibit unggul.
Sumber referensi:
finance.detik.com/.../indonesia-masih-jadi-produsen-kopi-terbesar-no3-d.
bisnis.liputan6.com/..
www.kemendag.go.id/...






0 komentar:
Posting Komentar