23.54

KIAT-KIAT RI MENGALAHKAN PRODUSEN KOPI KE 2, VIETNAM



Ironis bahwa Indonesia sebagai negara penghasil  kopi  arabica yang pertama harus menempati posisi ke 3 sementara Vietnam ke 2.

Sejarah membuktikan bahwa  Vietnam pernah belajar kepada RI untuk mengolah, memproduksi kopi Robusta .   Namun,  sejarah pula yang telah mengukir  ternyata  RI berhasil dikalahkan oleh Vietnam untuk produksi kopi Robusta  di tempat ke3  setelah Vietnam menduduki tempat ke 2.

                                                                Kopi  Vietnam



Produksi  kopi Robusta Vietnam tiap tahun terus meningkat.   Proyeksi tahun 2011-2012 lebih tinggi 10% dibandingkan sebelumnya.    Jumlah kopi dari 13 pedagang dihasilkan 1,6 Metric ton dalam 12 bulan Mulai Oktober yaitu  1,65 juta dibandingkan dari tahun sebelumnya hanya 1,45 juta.

Penjualan kopi Robusta Vietnam lebih murah daripada  Indonesia .  Harga yang diperdagangkan di NYSE pekan lallu yaitu USD 140/per ton  dibandingkan Indonesia  yang lebih mahal USD 230/per ton.  Harga yang tinggi mencerminkan tidak efektivifnya  Indonesia dalam produksi kopi Robusta.  Biaya jauh lebih tinggi dari  modal, menyebabkan harga jual Indonesia menjadi lebih mahal





1.       Petani Robusta Indonesia belum menggunakan bibit kopi Robusta unggul. Sedangkan petani Robusta Vietnam telah menggunakan bibit kopi Robusta

2.       Tenaga penyuluh/pembimbing  petani di Indonesia hanya oleh departemen pertanian, yang hanya mengetahui  secara teori dan tidak mengetahui kondisi lapangan.  Sedangkan pembimbing petani Robusta Vietnam langsung terjun di lapangan

3.       Petani di  Indonesia tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Sedangkan di Vietnam di dukung oleh  pemerintah

4.       Kelemahan Indonesia di poin pertama menyebabkan produktivitas menjadi rendah meskipun lahan tanah jauh lebih luas dari Vietnam.  Indonesia lahan 1.6ha , produksi kurang dari 1 juta.  Sedangkan Vientaman lahan 512 ha tetapi  hasilnya  1,65 juta.  Bayangkan sangat besar pertaniannya.



Bagimana strategi mengalah pasar dunia?  Apakah dengan bersatunya  kedua negara penghasil kopi Robusta  yang tergabung dalam ASEAN  dapat merebut  pangsa pasar dunia?   



Secara politis dan ekonomi,  jawabannya tidak mungkin.  Bersaing dalam pasar global tentu masing-masing negara mempunyai kehebatan dan keunggulan komparatif yang  tak bisa dicapai dengan mudah.  Tentu Vietnam masih ingin mengantongi keuntungan ini untuk  devisa negara dan penghasilan dari petaninya.



Namun, secara  Negara Asean yang bisa dilakukan adalah kerja-sama kedua  negara  mengenai manajemen produktivitas  dan intesifikasi  kopi robusta dan manajemen marketing .



Yang dapat dilakukan Indonesia pada saat produksi Vietnam turun (karena cuaca),  dengan menggenjot produksinya mencapai 1,5 juta ton. Hal ini hanya dapat dicapai  jika potensi produksi tercapai 60%  , saat ini potensi produksi baru 20%.    Kenaikan produksi ini  dimungkinkan tercapai jika ada intensifikasi dan komitmen dari pemerintah  Pemerintah untuk  mendukung dalam  dana maupun teknik penanaman bibit unggul.











Sumber referensi:

finance.detik.com/.../indonesia-masih-jadi-produsen-kopi-terbesar-no3-d.

 bisnis.liputan6.com/..


www.kemendag.go.id/...




0 komentar: