23.39

“Peran Ibu dalam keluarga sebagai mom and bestie”



Peran ibu ketika anaknya masih kecil boleh dikatakan hanya sebagai  pendamping penuh.  Memantapkan karakter dan membina prinsip dasar yang tak boleh lengah. Anak bagaikan sebuah lukisan polos.  Kepolosan yang dibentuk dengan tangan halus akan menghasilkan lukisan indah nan cantik.  Sebaliknya  kepolosan yang dibentuk dengan tangan kasar dan kepalsuan akan menghasilkan lukisan yang sangat sadis, guratan pemberotakan yang tak ada akhirnya.


Ketika dasar-dasar telah diletakkan.  Dia akan bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan dan kemampuan yang terus bertumbuh.   Kadang harus jatuh , kadang harus bangkit kembali.   Mendampinginya lebih banyak dengan dialog, interaksi yang menempatkan dirinya sebagai manusia utuh.  Bukan sebagai anak yang perlu dibimbing, dimonitor, dimarahi.   Dia tak lagi membutuhkan amarah, otoritas.  Pada dasarnya anak remaja tengah bertumbuh dewasa secara jasmani, intelektual dan rohaninya.   Dia ingin dianggap mandiri dari semua bidang.  Dia ingin suaranya didengar, bukan mendengar terus dari orang tuanya.  Dia ingin kakinya melangkah dengan ringan bukan dengan berat hati.  Dia ingin melapakkan sayapnya ke tempat yang tinggi.
  
Peran ibu pada masa remaja cukup hanya sebagai teman. Teman dimana yang sangat dibutuhkan ketika dia sedang dalam kesulitan, kegalauan, kesunyian dan kesedihan.   Teman dimana dia juga ingin menumpahkan kegembiraan karena keberhasilannya.   Ibu yang dijadikan teman adalah mitra yang sangat menyenangkan baginya . Bukan sebagai orang yang terus menerus mencekoki dengan berbagai macam keegoannya.
Inti dari perempuan yang menjadi teman baik bagi anaknya adalah DOA.  Isi doa bukan sekedar doa yang tak ada isinya.  Tetapi doa yang penuh dengan  keyakinan bahwa anak kita benar,  keinginan kita menjadi ibu yang diubahkan oleh Tuhan untuk dibentuk terus.  Dalam doa ada suatu keyakinan bahwa anak kita akan menjadi dan dibentuk sesuai dengan kehendakNya bukan kehendak kita.  Memanusiakan dan MelayaniNya .
Mempercayakan Tuhan yang memimpin dan mengatur dan menjagai anak kita



1 komentar:

Lia Damanik mengatakan...

Treat your kid like a darling for the first five years. For the next five years, scold them. By the time they turn sixteen, treat them like a friend. Your grown up children are your best friends.

-Chanakya-

Salam kenal ya Emak.. Aku bukan seorang ibu sih tapi..