The future depends on what we do in the present. - Mahatma
Gandhi
Masa depan negara
tergantung dari apa yang dilakukan oleh generasi orangtua saat ini kepada generasi muda. Peran dan tanggungjawab generasi orangtua
sangat penting demi mewujudkan generasi
Pemimpin Kecil yang berkarakter
dan memikili visi dan misi yang dipercayakan kepadanya.
Aku, sebagai orangtua menyadari sekali bahwa apa yang akan
kutanamkan kepada anakku di masa kecil, dan dewasa akan menjadi landasan bagi hidupnya . Hidup
yang menjadikan pemimpin bagi dirinya sendiri.
Karena kami akan tua, meninggal dan dialah pewaris dan bagian generasi
penerus masa depan.
Menyadari hal itu, aku
sangat memperhatikan peranku sebagai ibu.
Ketika anakku masih SD, aku masih bekerja. Waktu yang sangat berharga bagi seorang ibu
dengan dua peran sekaligus, yaitu ibu rumah tangga dan ibu pekerja. Bagiku pendidikan yang mempunyai visi mewujudkan karakter yang
jujur, terbuka, disiplin, keuletan sangat kudambakan. Nach,
mulailah dengan pilihan yang sulit ketika anak masuk sekolah SD. Memang banyak tawaran sekolah yang
memberikan seolah-olah memiliki fasilitas dan kurikulum keren dan hebat dalam pengertian “go
internasional”. Tapi aku tetap kepada
prinsip utamaku, cari sekolah yang mengutamakan karakter anak.
Lalu, ketika aku telah
mendapatkan sekolah itu, banyak konflik
diriku dan anakku yang sering terjadi. Awal
utamanya adalah harapan untuk mendapatkan sekolah yang baik dalam arti berkarakter. Tetapi aku baru sadar bahwa anak yang
mendapatkan pendidikan karakter di sekolah harus diimbangi dengan pendidikan
karakter di rumah. Ketika anakku minta
segala macam perhatian, mulai dari PR yang sangat banyak dan harus dikerjakan,
buku penghubung antara orangtua dan guru yang tiap hari harus aku baca. Padahal
aku tak punya waktu dan bahkan seringkali merasa malas untuk membaca buku
penghubung karena aku tak tahu pentingnya buku itu.
Akibatnya, suatu hari
anakku pulang dengan menangis. “Mamah,
kenapa tak baca dan tanda-tangan buku penghubung?” “Aku mendapat hukuman menulis beberapa
halaman karena Ibu Guru menganggap aku yang tak memberikan buku itu kepada
mamah”. “Ternyata, benar-benar itu
suatu pukulan bagi diriku”. Aku tak
sadar bahwa sebelum aku menuntut anakku mendapatkan pendidikan disiplin, aku
sendiri harus disiplin. Mulai saat
itu, aku terus memperbaiki diriku, memberikan teladan bagi anakku.
Setiap kali naik ke jenjang pendidikan dari SD ke SMP, maka adaptasi teman, adaptasi
pelajaran menjadi momok bagi anakku.
Aku harus mendampingi hari-hari sulitnya. Memperhatikan, memberikan pendampingan, serta
memberikan bimbingan jika ia bertanya , mengeluh. Tentunya teman-temannya tidak semuanya baik
sifat, watak dan perbuatannya.
Seringkali dia bercerita bahwa ada teman-temannya yang kurang baik dalam
pelajaran, mendapat bullying dari teman yang lebih pandai. Pada saat yang tepat itulah, aku sebagai
orangtua, memberikan pelajaran hidup bahwa tidak boleh melakukan bullying
kepada mereka yang dianggap lemah.
Melaporkannya kepada guru kelas atau wali kelas jika hal itu
terjadi.
Saat ketika anakku
menginjak SMA, perjuangan yang sangat
berat adalah ketika menghadapi ujian akhir nasional dan ujian sekolah. Bertumpuk buku-buku yang harus dipelajari,
hampir tiga bulan, sekolah memberikan latihan-latihan ujian . Perasaan jenuh, cape dan bosan
memenuhinya. Tapi, saya selalu
mendorongnya untuk terus berlatih. Jika ingin memenangkan pertandingan, harus
dimulai dengan ketekunan, kerajinan, kemauan keras. Tidak boleh patah semangat. Bahkan ketika
kebosanan melandanya, aku dipaksa mengatakan kepadanya “Jangan menyerah,
berjuang!”, sebagai tanda semangat kepadanya.
Beruntung, dia dapat
melewati masa krisis itu dengan baik.
Harapanku untuk anakku pada masa sulit yang terakhir adalah adaptasi
lingkungan, pelajaran, sosial ketika dia harus kulepaskan untuk menggapai
cita-citanya. Sulit bagiku karena dia anak tunggal. Tapi mengingat bahwa kemandirian harus digapainya. Dia belajar untuk menghadapi dan mengatasi kesulitannya, kuliah
di luar negeri. Ketika dia mendapat kesulitan dalam upgrade internet yang
merupakan "jantung" kebutuhan kuliahnya. Ketika aku harus
memberikan kuliah singkat tentang lifeskill, memasak, mengolah
keuangan untuk kehidupannya, mengenal dunia bank, dunia budaya -sosial dari
tempat dia tinggal.
Menggapai cita-cita untuk menjadi pemimpin dalam
dirinya, keluarganya, serta masyarakat dimana dia akan tinggal, itulah
persiapan yang telah kulakukan sebagai seorang ibu.






0 komentar:
Posting Komentar